Senin, 26 Mei 2014

MAKALAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PAKAN


MAKALAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PAKAN
“PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN RUMPUT GAJAH”











LOGO UNDIP.jpg








Disusun oleh :
                                               
                                                           
MUHAMMAD FAHIM RIDHO
23010112130186









JURUSAN S-1 PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014


BAB I
PENDAHULUAN
Pakan merupakan setiap  bahan yang dapat dimakan , disukai, dicerna dan tidak membahayakan bagi kesehatan ternak. Agar bahan dapat disebut dengan pakan maka harus memenuhi persyaratan tersebut.Pakan  adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan diserap baik secara keseluruhan atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan atau tidak mengganggu kesehatan ternak yang mengkonsumsinya ( Kamal, 1998 dalam Subekti, 2009). Sedangkan yang dimaksud dengn  ransum adalah campuran dari beberapa bahan pakan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan ternak dalan waktu 24 jan sehingga zat gizi yang dikandungnya seimbang sesuai kebutuhan ternak  ( Indah dan Sobri, 2001 dalam Subekti, 2009). Bahan-bahan  pakan yang diberikan untuk ternak dapat dibedakan menjadi pakan asal tanaman  dan  pakan asal hewan. Bahan pakan asal hewan seperti tepung ikan, tepung tulang, tepung daging, tepung darah, tepung bulu dan tepung udang. Bahan-bahan asal tanaman seperti hijauan dan biji-bijian.
Bahan pakan asal hijauan dapat dibedakan menjadi  rumput dan leguminosa. Hijauan pakan atau disebut forage merupakan tanaman pakan yang berasal dari rumput dan kacang-kacangan yang diambil hijauannya sebagai bahan pakan (Purbajanti, 2012). Pakan hijauan tidak terjamin sepanjang tahun secara kuantitatif dan kualitatif, pada saatmusim hujan hijauan yang tersedia sangan melimpah sedangkan saat tiba musim kemarau atau panas hijauan pakan sangat sulit penyediaannya untuk memenuhi kebutuhan ternak terutama ternak ruminansia. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan atau pengawetan hijauan agar supaya hijaua pakan selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan ternak tersebut. Tujuan utama dalam pengawetan  hijauan adalah untuk memelihara atau mempertahankan kualitas dan kuantitas nutrisi hijauan dengan meminimalkan kehilangan pada saat pemanenan dan penyimpanan (Rotzdan Muck, 1994 dalam Mansyur et al., 2007). Sedangkan keuntungandari  pengawetan hijauan adalah dapat dipertahankan kualitasnya atau komposisi nutriennya hingga berakhirnya masa penyimpanan (Sugiri et ai., 1981 dalam Subekti et al., 2013).
Pengolahan dan pengawetan bahan pakan dapat dilakukan dengan cara fisik atau mekanik, kimiawi, biologis dan kobinasinya. Perlakuan secara fisik dapat dilakukan dengan cara penjemuran, pencacah atau pemotongan, penggiling, penghancuran serta pembuatan pelet (Wahyono dan Hardiyanto, 2004). Perlakuan secara kimiawi dilakukan dengan cara menanbahkan bahan kimia seperti amoiasi. Amoniasi merupakan  salah satu perlakuan bahan pakan secara kimiawi yang   bersifat alkalis sehingga dapat melarutkan hemiselulosa dan memutuskan ikatan atara lignin dan selulosa atau emiselulosa (Klopfenstein, 1987 dalam Pprastyawan at al., 2012).  Perlakuan secara biologis dapat dilskukan dengan cara fermentasi dengan menggunakan mikroba starter, proses fermentasi ini bermanfaat untuk menurunkan kadar serat kasar, meningkatkan kecernaan dan meningkatkan kadar protin bahan pakan (Tampoebolon, 1997 dalam Pprastyawan at al., 2012).  Dan perlakuan secara kombinasi dapat dilakukan dengan cara gabungan dari fisik-kimia, fisik-biologi dan atau biologi-kimia.


Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mendeskripsikan pengawetan hijauan pakan berupa rumput gajah secara fisik dengan cara pengeringan yang sering disebut hay, sehingga hijauan pakan tersebut dapat tersedia terus-menerus sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak terutama ternak ruminansia.


BAB II
ISI
2.1       Kaakteristik Rumput Gajah
Rumput gajah (pennicetum purureum) atau rumput napier  merupakan jenis hijauan pakan ternak yang mempunyai kualitas tinggi dan disukai oleh ternak (Rianto dan Purbowati, 2010). Karatteristik dari rumput ini yaitu tumbuh tinggi, kuat, perakaran dalam, berkembang dengan rhizome, batang dan daun bagian permukaan atas berbulu dan bunga berwarna kunig atau coklat. Rumput Gajah adalah salah satu jenis rumput unggul yang sekarang banyak ditanam oleh para peternak, rumput ini memiliki kandungan bahan kering (BK) 21%, protein kasar (PK) 9,6%, lemak kasar (LK) 1,9%, Total Digestible Nutrients(TDN) 52,4% (SIREGAR, 2003 dalam Rianto et al., 2007).
2.2       Proses Pembuatan Hay
            Hay merupakan hijauan berupa daunan jenis rumputan atau bijian yang sengaja dipanen menjelang berbunga yang dikeringkan baik dengan cara diangin-anginkan maupun dengan cara dikeringkan dengan panas matahari secara langsung. Hay merupakan  hijauan makanan ternak   yang sengaja dipotong dan dikeringkan agar bisa diberikan kepada ternak pada  kesempatan yang lain. Tujuan dari pembuatan hay ini yaitu hay adalah untuk mengurangi tingkat kandungan air dari hijauan hingga pada suatu level dimana menghambat aksi dari enzim-enzim baik yang dihasilkan oleh tanaman maupun mikrobial (Mc Donald et al., 2002 dalam Mansyur et al., 2007), untuk dapat menyediakan hijauan pakan untuk ternak pada saat-saat tertentu, seperti  dimasa paceklik atau musim kemarau, untuk dapat memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik tetapi pada saat itu belum dimanfaatkan. Sedangkan prinsip dari proses pembuatan hay ini adalah menurunkan kadar air menjadi 15-20%  dalam waktu yang singkat, baik dengan panas matahari ataupun panas buatan.
            Menurut Yulianto dan Saparinto (2010) bahwa  proses pembuatan hay yaitu pertama menyiapkan hijauan pakan (rumput gajah) yang kemudian memotong- motongnya baik dengan cara manual dengan pisau atau sabit maupun dengan menggunakan mesin pencacah rumput dan dilakukan penimbangan untuk mengetahui kadar airnya, kemudian jemur hijauan dibawah sinar atahari selama  1-2 hari agar kadar air menjadi 20-25% dan perlu dilakukan penimbangan setiap 5 jam untuk mengetahui kadar airnya. Jika pengeringan sudah merata selanjutnya hijauan diikat dan hay disimpan digudang. Ciri-ciri hay yang baik adalah warna hijau kekuningan, tidak banyak daun yang rusak, bentuk daun masih utuh atau jelas dan tidak kotor atau berjamur, serta tidak mudah patah bila batang dilipat dengan tangan (Subekti, 2009).


2.3       Hay Rumput Gajah
            Rumput gajah (pennicetum purureum) atau rumput napier  merupakan jenis hijauan pakan ternak yang mempunyai kualitas tinggi dan disukai oleh ternak (Rianto dan Purbowati, 2010). Pengawetan rumput gajah dengan pengeringn atau hay merupakan cara yang tepat, sehingga kualitas rumput gajah terjaga dan  dapat di berikan pada ternak untuk kebutuhannya sepanjang tahun. Menurut Rianto et al., (2006) bahwa hay rumput Gajah memiliki kandungan nutrisi Air 13,38%, Abu 15,98%, LK 3,38% PK 9,82% SK 23,88%. Energi 2.992 kcal/kg. Sedangkan menurut  Santoso Dan Hariadi (2008) BK 83,4%, BO 87,8%, PK 12,4%, NDF 70,0%, LK 1,9% dan NFC 3,4%.
            Menurut Wina (2008)  menyatakan bahwa penyebabkan penurunan kadar senyawa karotenoid yang sangat signifikan (83% hilang) selama proses pembuatan hay  karena senyawa karotenoid sangat labil dan mudah rusak radiasi oleh panas atau terekpos oleh sinar UV pada pengeringan hijauan di bawah sinar matahari. WILLIAM  et al.(1998) dalam  Wina (2008) melaporkan kandungan rata-rata β-karoten dalam hijauan segar, dan hijauan yang dibuat ”hay” masing-masing adalah 196 dan 36 mg/ kg bahan kering. Jadi hijauan segar yang dibuat menjadi hay akan menalani penurunan kadar β- karoten dan senyawa karotenoid. Menurut Nista et al., (2007) bahwa Keuntungan atau kebaikan pembuatan hay yaitu kandungan vitamin D dalam hijauan lebih tinggi, sedangkan Kekurangan dari pembutan hay yaitu  proses pengeringan berlangsung lebih lama menyebahkan penurunan gizi relatif lebih besar, selama proses pengeringan ini sel-sel terus bernapas, menggunakan energi eperti gula dan karbohidrat yang menghasilkan CO2 dan  Karotin (pro-vitamin A) menurun.




BAB III
KESIMPULAN
            Rumput gajah (pennicetum purureum) atau rumput napier  merupakan jenis hijauan pakan ternak yang mempunyai kualitas tinggi dan disukai oleh ternak. Pengawetan dengan pembuatan hay merupakan cara yang tepat untuk rumput gahaj ini, sehingga hijauan dapat tersedia untuk memenuhi kebutuhan ternak sepanjang tahun. Pembuatan hay merupakan cara yang lebih mudah diakukan untuk pengawetan rumput gajah dengan mengandalkan panas dari sinar matahari. Kualitas  hay rumput gajah dipengaruhi oleh masa pemotongan rumput dan lama penyinaran matahari, pemotongan yang baik rumput dipotong menjelang berbunga dan pengeringan sebaiknya rumput tidak terkena sinar matahari secara langsung.


DAFTAR PUSTAKA
Mansyur, Tidi Dhalika, U. Hidayat Tanuwiria Dan Harun Djuned. 2007. Proses Pengeringan Dalam Pembuatan Hay Rumput Signal (Brachiaria decumbens) Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner : 714-720.
Nista, D., Hesty Natalia dan A. Taufik. 2007. Teknologi Pengolahan Pakan. Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam, Sembawa.
Rianto, E dan E Purbowati. 2010. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rianto, E., Deasy Anggalina, Sularno Dartosukarno dan Agung Purnomoadi. 2006. Pengaruh Metode Pemberian Pakan Terhadap Produktivitas Domba Ekor Tipis. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner : 361-365.
Rianto, E., Mariana Wulandari dan Retno Adiwinarti. 2007. Pemanfaatan Protein Pada Sapi Jantan Peranakan Ongole Dan Peranakan Friesian Holstein Yang Mendapatpakan Rumput Gajah, Ampas Tahu Dan Singkong. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner : 64-70.
Santoso, B.  Dan B. Tj. Hariadi. 2008. Komposisi Kimia, Degradasi Nutrien dan Produksi Gas Metana in VitroRumput Tropik yang Diawetkan dengan Metode Silase dan Hay. Media Peternakan Vol. 31 No. 2: 128-137
Subekti,  Endah. 2009. Ketahanan Pakan Ternak Indonesia. Mediagro Vol. 5 No. 2 :  63 – 71.
Subekti, G., Suwarno dan Nur Hidayat. 2013. Penggunaan Beberapa Aditif Dan Bakteri Asam Laktat Terhadap Karakteristik Fisik Silase Rumput Gajah Pada Hari Ke- 14. Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 835–841.
Ternak Purbajanti Endang Dwi. 2012. Rumput Dan Legum; Sebagai Hijauan Makanan. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Wina, Elizabeth. 2008. Manfaat Senyawa Karotenoid Dalam Hijauan Pakan Untuk Sapi Perah. Semiloka Nasional Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas – 2020 : 124-129.
Yulianto, P dan C. Saparinto. 2010. Pembesaran Sapi Potong Secara Intensif. Peebar Sw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar