Selasa, 13 Januari 2015

BUDIDAYA AYAM BROILER


GAMBARAN RANCANGAN USAHA
2.1       Jenis Usaha
            Usaha yang akan didirikan yaitu budidaya ayam pedaging atau broiler dengan kapasitas produksi 20.000 ekor.
2.2       Pemilihan Lokasi
            Lokasi kandang yang digunakan yaitu di desa Banyumeneng keamatan Mranggen kabupaten Demak Jawa Tengah. Kandang terletak di area jauh dari pemukiman dengan suhu rata-rata 23-340C dengan kelembapan udara 40-80%. Memilih lokasi ini karena belom ada peternakan ayam pedaging di daerah ini dan dekat dengan akses pasar dan akses pakan.
2.3       Manajemen Perkandangan
   Kandang yang digunakan yaitu 3 kandang dengan ukuran 100 meter x 8 meter dengan kepadatan kandang 4000 ekor, luas ukuran kandang berdasarkan umur, kepadatan per meter persegi adalah:
            1.         Umur 1 – 3 hari kepadatan 40 – 50 ekor per meter persegi.
            2.         Umur 4 – 6 hari kepadatan 25 – 35 ekor per meter persegi.
            3.         Umur 7 – 9 hari kepadatan 15 – 20 ekor per meter persegi.
            4.         Umur lebih dari 10 hari kepadatan 10-15 ekor per meter persegi.


2.4       Manajemen Pemeliharaan
            Pemeliharaan DOC sampai panen dengan menjaga lingkungan peternakan tetap nyaman  agar DOC berproduksi dengan optimal dan tinngkat kematian rendah
2.5       Manajemen Pakan
            Pemeliharaan ayam broiler dibedakan menjadi dua peiode yaitu periode starter dan periode finisher. Standar energi ransum ayam pedaging untuk periode starter adalah 2800-3200 kkal/kg dan untuk periode akhir atau finisher energi metabolisme sebesar 2800-3300 kkal/kg.. Jumlah Kebutuhan ayam berdasarkan umur sebagai berikut:
·         Minggu Pertama (hari ke-1-7) kebutuhan pakan 13 gr per ekor
·         Minggu Kedua (hari ke 8 -14) kebutuhan pakan 33 gr per ekor
·         Minggu Ketiga (hari ke 15-21) kebutuhan pakan 48 gr per ekor
·         Minggu Keempat (hari ke 22-28) kebutuhan pakan 65 gr per ekor
·         Minggu Kelima (hari ke 29-35) kebutuhan pakan 88 gr per ekor
2.6       Manajemen Vaksin dan Obat-Obatan
            Kerugian dalam budidaya kebanyakan disebabkan oleh ayam yang mati atau terserang penyakit. Penyakit pada ayam dapat ditanggulangi dengan pencegahan (vaksinasi) dan pengobatan. Selain itu juga dengan sanitasi yang baik pada kandang. Program  vaksinasi ayam broiler sebagai berikut:
Tabel 1. Program Vaksinasi Ayam Broiler
Umur (hari)
Obat/vaksin
0
Desinfektan
1-3                  
Antistress
3
Vaksinasi ND 1
4-7
Vitamineral
8-10
Koksidiostat
11-13
Antistress
13
Vaksinasi CRD
16-22
Multivitamin
23-25
Koksidiostat
26-28
Antistress
27
Vaksinasi ND 2
28
Vaksinasi CRD
29-panen
Multivitamin
Supriatna et al. (2005)
3.7       Manajemen Tenaga Kerja
            Tenaga kerja berjumlah 5 oang yang terdiri dari 4 orang anak kandang yang bertugas menangani pemeliharaan seperti memberi pakan dan minum, sanitasi dan pengolahan limbah, 1 orang lagi sebagai menejer pemeliharaan yang mengawasi anak kandang. Karyawan bekerja 12 jam dengan 2 kali shift yaitu pagi dan malam. Sistem penggajian yaitu anak kandang digaji Rp 1.000.000/bulan dan menejer digaji Rp 2.000.000/bulan.


3.8       Manajemen Pemasaran
            Jenis produk yang akan dipasarkan adalah berupa ayam pedaging umur antara 35 hari dijual dalam keadaan hidup. Ayam tersebut dipasarkan melalui tengkulak atau langsung ke pemotong, mengingat masih belum terpenuhi kebutuhan daging ayam. Produk yang akan dipasarkan mempunyai cirri-ciri sebagai berikut ayam dijual umur antara 35 hari dengan bobot ayam antara 1,7 kg sampai 2 kg, dengan FCR maksimal 1,9 ayam dijual dalam kondisi hidup. Pesaing yang ada akan kita jadikan mitra kerja.



ANALISIS USAHA
3.         Analisis Kelayakan Usaha
            Berikut ini merupakan analisis sederhana usaha budidaya ayam broiler ukuran satu periode panen:
1.         Biaya Tetap
            Biaya penyusutan Kandang    : Rp 2.000.000
            Biaya penyusutan peralatan    : Rp 1.500.000
            Biaya tak terduga                    : Rp 1.000.000
            Tenaga kerja                            : Rp 11.000.000
            Total biaya tetap                     : Rp 15.500.000
2.         biaya variable:
            DOC (10.000 ekor x Rp 4.000)          : Rp 40.000.000
            Biaya pakan (17.290 kg x Rp 8.000)  : Rp 138.320.000
            Vaksin                                                 : Rp 500.000
            Obat-Obatan                                       : Rp 500.000
            Transportasi                                         : Rp 2.000.000
            Listrik                                                  : Rp 500.000
            Total biaya variabel                             : Rp 181.820.000
           
Total biaya                                         : Rp 197.320.000
3.         Keuntungan:
Produksi awal ayam broiler yaitu 10.000 ekor dengan bobot rata-rata 2 kg dengan harga jual per kg mencapai Rp 18.000, maka total penerimaan yaitu        Rp 360.000.000. Keuntunga ini dapat digunakan untuk menambah produksi.
4.         Analisis Biaya Manfaat
a. Keuntungan      : Rp360.000.000 – Rp 197.320.000 = Rp 162.680.000
b. B/C Rasio         : Rp 360.000.000 / Rp 197.320.000 = 1,82
            (B/C rasio > 1 maka usaha ini layak untuk dijalankan dan setiap penambahan Rp 1,00 akan diperoleh keuntungan Rp 1,82)
c. Break  Event Point (BEP)       
1. BEP harga produksi: Rp 197.320.000/ 10.000 x 2 kg = Rp 9.866
       ( artinya pada  harga Rp 9.866 usaha ini berada pada titik impas)
2. BEP volume produksi         : Rp 197.320.000/ Rp 9.866 = 20.000 kg






DAFTAR PUSTAKA
Akbar Adiguna. 2009. Evaluasi Nutrisi Ransum Ayam Broiler  Di CV Pandu Putra Mandiri Desa Cibolang Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Sukabumi. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang
Gatot Adiwinarto,01 November 2009. Proposal Pemeliharaan Ayam Pedaging http://gatotleo.blogspot.com/2009/11/proposal-pemeliharaan-ayam-pedaging.html

Selasa, 14 Oktober 2014

LAPORAN PRODUKSI TERNAK POTONG DAN KERJA


LAPORAN PRAKTIKUM
PRODUKSI TERNAK POTONG DAN KERJA



Oleh :
Muhammad Fahim Ridho
23010112130186






PROGRAM STUDI S-1 PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

LEMBAR PENGESAHAN
Nama                           : Muhammad Fahim Ridho
NIM                            : 23010112130186
Kelas                           : A
Kelompok                   : III(Tiga)
Tanggal Pengesahan    :           Mei 2014

Menyetujui,

Koodinator Kelas
Produksi Ternak Potong dan Kerja
Asisten Pembimbing




Giovani Surya Dewi
NIM. 23010110110015





Yuni Haryanti
NIM. 23010111130205

                                                     





Ketua Laboratorium
Ilmu Ternak Potong dan Perah




Prof. Dr. Ir. Agung Purnomoadi, M.Sc.
NIP. 19630504 198703 1 003


Tabel 1. Evaluasi Kecukupan Pakan
Bahan Pakan
Konsumsi Segar (kg)
BK Pakan (%)
Konsumsi BK (kg)
Kebutuhan BK (kg)
Evaluasi Pakan (kg)
Rumput Gajah
21,91
17,42
3,82
-
-
Konsentrat
4,36
87,15
3,78
-
-
Total
26,27

7,62
8,50
-0,88
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2014
Tabel 2.  Kecernaan Bahan Pakan Ternak
Bobot Badan (kg)
PBBH (kg)
Konversi Pakan
Efisiensi Pakan (%)
Daya Cerna (%)
350,25
1,2
6,3
15,08
43,95
Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja, 2014















No
Hasil Praktikum
Pembahasan
1
Analisis Bahan Kering Pakan
Berdasarkan praktikum diperoleh hasil  bahan kering  rumput gajah yaitu 17,42%.. Menurut Rianto et al. ( 2007) rumput gajah memiliki kandungan bahan kering  21%. Kandungan bahan kering konsentrat diperoleh hasil yaitu 87,15%. Menurut             Tarmidi (2004) kandungan bahan kering konsentrat yaitu 85,50%. Faktor  yang mempengaruhi kandungan bahan kering yaitu jenis bahan pakan, waktu pemanenan dan iklim didaerah tersebut. Hal ini sesuai dengan Nugraha (2013) tinggi rendahnya kadar bahan kering bahan pakan dipengaruhi oleh tingkat kematangannya waktu pemanenan, lingkungan tempat tumbuh dan cara pengolahan.

Rumput Gajah         
Konsentrat
: 17,42%
: 87,15%
2
Pertumbuhan dan Perkembangan
Berdasarkan  praktikum sapi mengalami pertambahan bobot badan sebesar 1,2 kg dalam waktu 7 hari. Hal sesuai dengan Wibowo (2008) pertambahan bobot bahan sapi setelah umur satu tahun pertambahan bobot badannya yaitu lebih dari 1 kg/hari. Faktor yang mempengaruhi pertambahan bobot badan sapi yaitu jumlah konsumsi pakan, nutrisi dalam pakan dan lingkungan yang optimum. Menurut Kurniasari et al. (2009) faktor yang mempengaruhi pertambahan bobot badan yaitu jumlah konsumsi pakan konsentrat dan jumlah energi yang dikandung pakan dan menurut Yani dan Purwanto (2006) untuk kehidupan dan produksi ternak memerlukan suhu lingkungan yang optimum.

·      Bobot Awal
·      Bobot Akhir
·      PBBH
: 346 kg
: 354,5 kg
:  1,2 kg

3
Pengamatan Fisiologi Ternak
Berdasarkan praktikum diperoleh hasil suhu rektal 38,90C, denyut nadi 67 kali/menit dan frekuensi nafas 40 kali/menit. Hal ini menunjukkan bahwa sapi dalam kondisi normal. Menurut  Yani dan Purwanto (2006) denyut jantung  sapi yang sehat pada daerah nyaman atau suhu tubuh 38,60C yaitu 60 – 70 kali/menit dengan frekuensi nafas yaitu 10-30 kali/menit. Faktor yang mempengaruhi suhu rektal, denyut nadi dan frekuensi nafas yaitu perubahan suhu lingkungan. Menurut Pelulungan et al. (2013) perubahan suhu tubuh, denyut nadi dan frekuensi nafas dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

·      Suhu Rektal  
·      Denyut Nadi
·      Frekuensi Nafas
: 38,50C
: 67 kali/menit
:  40 kali/menit



4
Pengamatan Fisiologi Lingkungan
Mikroklimat
Waktu
Suhu (0C)
Rh (%)
06.00
25,36
76,36
12.00
31,71
56,64
18.00
27,36
75,07
21.00
25,57
75,14
Rata-rata
27,50
70,80
Makroklimat
Waktu
Suhu (0C)
Rh (%)
06.00
23,71
78,14
12.00
36,14
39,00
18.00
25,64
76,57
21.00
24,64
78,14
Rata-rata
27,53
67,96
Berdasarkan hasil praktikum pengukuran suhu di dalam kandang sebesar  27,500C dengan  kelembaban 70,80% dan di luar kandang suhu 27,530C dengan kelembaban udara 67,96%. Hal ini menunjukkan linkungan mikroklimat dan makroklimat yang normal pada daerah tropis. Menutur Palulungan et al. (2013) suhu daan kelembahan di daerah tropis berturut-turut yaitu  24-34ºC dan 60-90%. Ternak dapat berproduksi scara optimal pada suhu dan kelembadan berturut-turut berkisar 18,30C  dan 55%. Menurut Yani dan Purwanto (2006)  baha Sapi PFH akan berproduksi dengan baik bila ditempatkan pada suhu lingkungan 18,30C dan kelembaban udaran 55% jika suhu lingkungan tinggi maka ternak akan melakukan penyesuaian suhu secara fisiologis dan tingkah laku.



5
Konversi Pakan
Berdasarkan praktikum diperoleh hasil konversi pakan yaitu 6,3. Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang dikonsumsi untuk meningkatkan 1 kg bobot badan. Menurut Carvalho et al. (2010) nilai konversi pakan merupakan gambaran dari jumlah pakan yang dikonsumsi untuk meningkatkan 1 kg bobot badan, dengan  perbandingan antara konsumsi  pakan (BK) dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan. Faktor yang mempengaruhi nilai konversi pakan yaitu macam imbangan pakan yang digunakan, bangsa ternak dan manajemen kandang. Hal ini sesuai dengan Amien et al. (2013) faktor yang mempengaruhi konversi pakan yaitu kondisi ternak, daya cerna ternak, bangsa, jenis kelamin, kualitas dan kuantitaf pakan, dan faktor lingkungan.

·      PBBH
·      Konsumsi Total BK
·      Konversi Pakan
: 1,2 kg
: 7,62 kg
: 6,3








6
Efisiensi Pakan
 Berdasarkan praktikum diperoleh hasil efisiensi pakan 15,75%. Efisiensi pakan merupakan perbandingan pertambahan bobot badan yang dihasilkan dengan jumlah pakan dalam bahan kering. Hal ini sesuai Latifudin (2002) konversi pakan yaitu besarnya pertambahan bobot badan yang dibandingkan dengan jumlah bahan kering yang dikunsumsi. Menurut  Siregar (2001) efisiensi pakan pada sapi potong yaitu antara   7,52% - 11,29%.  Faktor yang mempengaruhi nilai efisiensi pakan yaitu umur ternak, kualitas pakan dan bobot badan ternak. Hal ini sesuai dengan Nurdiati et al. (2012) faktor yang mempengaruhi efisiensi pakan yaitu umur, kualitas pakan dan bobot badan.

·       PBBH
·       Konsumsi Total BK
·       Efisiensi Pakan


: 1,2 kg
: 7,62 kg
: 15,75 %


7
Daya Cerna
Berdasarkan praktikum diperoleh hasil daya cerna 43,95%. Daya cerna merupakan ukuran nutrisi yang dapat diserat pada saluran pencernaan. Hai ini sesuai dengan  Carvalho et al. ( 2010) daya cerna merupakan nilai nutrisi yang dapat diserap oleh saluran pencernaan. Menurut Rianto et al. (2007) kecernaan sapi PFH yaitu 72,20%. Faktor yang mempengaruhi daya cerna yaitu lama pakan dalam saluran pencernaan, kandungan serat kasar pakan dan bahan penyusun ransum. Hal ini sesuai dengan Winarni (2008) faktor yang mempengaruhi kecernaan pakan yaitu bentuk fisik dari bahan pakan, konsumsi ransum, dan laju perjalanan bahan pakan melalui saluran pencernaan.









·       Bobot Feses dalam BK
·       Konsumsi Total BK
·       Hasil Daya Cerna

:  4,26kg
: 7,62 kg
: 43,95 %




8
Feed Cost per Gain
Berdasarkan praktikum diperoleh hasil feed cost per gain sebesar Rp 12.744. Feed cost per gain merupakan biaya yang dikeluarkan untuk meningkatkan 1kg pertambahan bobot badan. Hal ini sesuai dengan Purbowati et al. (2004) feed cost per gain merupakan biaya pakan untuk menaikkan 1 kg pertambahan bobot badan. Nurdiati et al. (2012) menambahkan semakin rendah angka  feed cost per gain yang dicapai maka semakin baik dan angka feed cost per gain dapat diperkecil dengan cara mengoptimalkan pertambahan bobot badan serta menekan biaya pakan dengan menggunakan bahan pakan yang lebih efisien.

·       Harga Rumput Gajah
·       Harga konsentrat
·       Hasilnya
: Rp. 300/kg
: Rp. 2000/kg
: Rp.12.744.-
9



Evaluasi Perkandangan
·       Tipe Kandang         
·       Cara Penempatan Ternak   

: Stall berganda
: Tail to tail











  Berdasarkan praktikum diperoleh hasil tipe kandang yang digunakan yaitu tipe kandang tail to tail yaitu dimana posisi ternak ternak saling membelakangi atau antara ekor dengan ekor saling berhadapan. Kelebihan penempatan dalam stall berganda adalah mempermudah dalam pembersihan kandang. Hal ini sesuai dengan Saqifah et al. (2010) kelebihan penempatan ternak secara tail to tail  yaitu memudahkan dalam pembersihan kandang, meminimalisir terjadinya penularan penyakit, dan memudahkan pengamatan pada ternak birahi. Menurut Yani dan Purwanto (2006) memilih bahan untuk dijadikan atap yang baik yaitu bahan yang berkonduksivitas rendah. Pembuatan kandangan yang baik yaitu konstruksi kandang kuat, lantai, dinding dan atap. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yulianto dan Saparinto (2010) kontruksi kandang yang baik yaitu kerangka kandang terbuat dari bahan yang mampu menopang beban berat, atap kandang terbuat dari genting atau asbes, ijuk, dinding kandang terbuat dari tembok, lantai kandang terbuat dari bahan yang tidak licin, rata dan keras, serta terdapat tempat pakan dan minum.
10
Carrying Capacity
Berdasarkan praktikum diperoleh hasil carrying capacity dari lahan 13 ha yaitu 113 ekor dengan produksi lahan per tahun sebanyak 1.996.800 kg BS/tahun. Carrying capacity merupakan kemampuan lahan untuk memenuhi kebutuhan hijauan pakan ternakdalan waktu satu tahun. Hal ini sesuai dengan Alfian et al. (2012) kapasitas tampung (carrying capacity) adalah kemampuan lahan untuk menghasilkan hijauan makanan ternak yang dibutuhkan oleh ternak dalam luasan satu  hektar untuk mencukupi kebutuhan hijaun satu tahun. Panjono et al. (2009) menyatakan bahwa manfaat dari penghitungan carrying capacity yaitu dapat memprediksikan apakah lahan hijauan yang tersedia mampu memenuhi kebutuhan ternak selama satu tahun. Rusdin et al. (2009) menambahkan bahwa padang penggembalaan yang produktif yaitu mampu memenuhi kebutuhan ternak dengan daya tampung minimal sebesar 2,5 UT/ha/tahun.


·       Produksi Lahan per Tahun
·       Produksi Lahan per Hari
·       Produksi per Hari dalam BK
·       Hasil CC
: 1996800 kg BS/th
: 547060 kg BS/hari
: 953 kg BK/hari
: 113 ekor